Sejarah Desa

1756976210836.jpeg

Sejarah Desa Lung Semamu berawal dari kisah perjalanan suku Dayak Lengiluk yang bermukim di pesisir laut Jelutung, dekat Sesayap. Mereka mengubah nama daerah mereka menjadi Penagar, yang berarti pagar untuk buaya, karena banyaknya buaya di sana. Di bawah kepemimpinan Afui Ra dan saudaranya Menangang Ra, serta sepupu mereka Asui, mereka menghadapi ancaman buaya yang semakin meningkat, sehingga memutuskan untuk pindah ke daerah yang disebut Seputuk.

Di Seputuk, suku ini dikenal sebagai Dayak Putuk. Namun, karena ada masalah satu dan lain hal, mereka kembali berpindah, kali ini ke Kuala Kebiran atau Sungai Betung, di hulu Malinau. Di sana, mereka mendirikan kampung di muara sungai. Tragedi menimpa Afui Ra ketika anak tunggalnya meninggal setelah tertimpa buah pohon ulin saat sedang menemani Afui mengasah parang di sungai. Akibat peristiwa itu, Afui memutuskan untuk menebang semua pohon ulin di daerah Kebiran sebagai bentuk kesedihan atas anaknya yang meninggal.

Setelah tragedi itu, mereka kembali pindah ke Turan Mas, di seberang Tanjung Lapang. Di sana, mereka bertemu dengan Abong Bango/Besar dan menjalin persaudaraan. Abong mengajak Afui dan rombongannya berlayar dengan tujuh perahu menuju daerah Mentarang, hingga mencapai Giram Belalau. Afui khawatir akan jeram yang berbahaya dan bertanya apakah di hulu masih banyak giram lain yang berbahaya. Abong menjelaskan di hulu masih terdapat banyak giram yang berbahaya. Akhirnya Abong meyakinkan mereka dan menyuruh mereka berjalan kaki melewati perbukitan, meninggalkan harta benda termasuk tempayan di perahu selama dua minggu. Mereka akhirnya sampai di daerah yang disebut Semamu (Lung Seraban atau Tana’ Rokhon). Saat bertemu kembali, Abong berbohong dengan mengatakan enam dari tujuh perahu mereka pecah, dan hanya satu yang selamat. Meskipun demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan dan Abong menetap di Mokun setelah mengantarkan mereka.

Setelah sekian lama akhirnya Afui menyadari bahwa perahu-perahu tersebut tidak pecah, melainkan diambil oleh Abong. Kemudian mereka menyusun rencana untuk mendapatkan kembali harta mereka dengan menjodohkan cucu Bung Mering yaitu Tuki Lung, dengan anak Abong, Idut Abong. Namun, meskipun pernikahan terjadi, harta benda mereka tidak pernah dikembalikan. Afui akhirnya pindah lagi ke Tusum/Susum, di atas Lung Sulit, di mana ia meninggal dunia. Sementara itu, keturunan Asui pindah ke Lung Liku.

Setelah wafatnya Afui, kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunan Menangang Ra, yaitu Bung Mering, Bang Bui, dan Lang Bubun. Mereka kemudian berpindah ke Semamu, tepatnya di Naga Susa’, sebelum akhirnya menetap di Lung Seraban, kampung lama mereka.

Namun, Desa Lung Semamu mengalami beberapa kali perpindahan lokasi akibat bencana alam dan faktor alam lainnya. Pada awal tahun 2000-an, banjir besar memaksa mereka pindah ke Sebilit. Lalu, sekitar 15 tahun terakhir, mereka kembali pindah ke lokasi Semamu yang sekarang karena di daerah atas sulit mendapatkan air saat musim kemarau. Desa ini juga pernah berpindah ke Pulau Sapi pada tahun 1986 karena program transmigrasi, dengan menyisakan beberapa keluarga di Seraban. Baru pada tahun 2000-an, di bawah kepemimpinan Bapak Sepiner, warga kembali ke hulu dan menetap di lokasi Semamu yang sekarang.

Kepala Desa

·       Pangeran Lung (1945an)

·       Ayub (70-80an)

·       Sigar(80-90an)

·       Sepiner (2000)

·       Pangeran (2012-sekarang)

 

Sumber: Pion Pangeran

Bagikan post ini: