Sejarah Desa
Sejarah Desa Lung Semamu
berawal dari kisah perjalanan suku Dayak Lengiluk yang bermukim di pesisir laut
Jelutung, dekat Sesayap. Mereka mengubah nama daerah mereka menjadi Penagar,
yang berarti pagar untuk buaya, karena banyaknya buaya di sana. Di bawah
kepemimpinan Afui Ra dan saudaranya Menangang Ra, serta sepupu mereka Asui,
mereka menghadapi ancaman buaya yang semakin meningkat, sehingga memutuskan
untuk pindah ke daerah yang disebut Seputuk.
Di Seputuk, suku ini dikenal
sebagai Dayak Putuk. Namun, karena ada masalah satu dan lain hal, mereka
kembali berpindah, kali ini ke Kuala Kebiran atau Sungai Betung, di hulu
Malinau. Di sana, mereka mendirikan kampung di muara sungai. Tragedi menimpa
Afui Ra ketika anak tunggalnya meninggal setelah tertimpa buah pohon ulin saat
sedang menemani Afui mengasah parang di sungai. Akibat peristiwa itu, Afui
memutuskan untuk menebang semua pohon ulin di daerah Kebiran sebagai bentuk
kesedihan atas anaknya yang meninggal.
Setelah tragedi itu, mereka
kembali pindah ke Turan Mas, di seberang Tanjung Lapang. Di sana, mereka
bertemu dengan Abong Bango/Besar dan menjalin persaudaraan. Abong mengajak Afui
dan rombongannya berlayar dengan tujuh perahu menuju daerah Mentarang, hingga
mencapai Giram Belalau. Afui khawatir akan jeram yang berbahaya dan bertanya
apakah di hulu masih banyak giram lain yang berbahaya. Abong menjelaskan di
hulu masih terdapat banyak giram yang berbahaya. Akhirnya Abong meyakinkan
mereka dan menyuruh mereka berjalan kaki melewati perbukitan, meninggalkan
harta benda termasuk tempayan di perahu selama dua minggu. Mereka akhirnya
sampai di daerah yang disebut Semamu (Lung Seraban atau Tana’ Rokhon). Saat
bertemu kembali, Abong berbohong dengan mengatakan enam dari tujuh perahu
mereka pecah, dan hanya satu yang selamat. Meskipun demikian, mereka tetap
melanjutkan perjalanan dan Abong menetap di Mokun setelah mengantarkan mereka.
Setelah sekian lama akhirnya Afui
menyadari bahwa perahu-perahu tersebut tidak pecah, melainkan diambil oleh
Abong. Kemudian mereka menyusun rencana untuk mendapatkan kembali harta mereka
dengan menjodohkan cucu Bung Mering yaitu Tuki Lung, dengan anak Abong, Idut
Abong. Namun, meskipun pernikahan terjadi, harta benda mereka tidak pernah
dikembalikan. Afui akhirnya pindah lagi ke Tusum/Susum, di atas Lung Sulit, di
mana ia meninggal dunia. Sementara itu, keturunan Asui pindah ke Lung Liku.
Setelah wafatnya Afui,
kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunan Menangang Ra, yaitu Bung Mering, Bang
Bui, dan Lang Bubun. Mereka kemudian berpindah ke Semamu, tepatnya di Naga
Susa’, sebelum akhirnya menetap di Lung Seraban, kampung lama mereka.
Namun, Desa Lung Semamu
mengalami beberapa kali perpindahan lokasi akibat bencana alam dan faktor alam
lainnya. Pada awal tahun 2000-an, banjir besar memaksa mereka pindah ke
Sebilit. Lalu, sekitar 15 tahun terakhir, mereka kembali pindah ke lokasi Semamu
yang sekarang karena di daerah atas sulit mendapatkan air saat musim kemarau.
Desa ini juga pernah berpindah ke Pulau Sapi pada tahun 1986 karena program
transmigrasi, dengan menyisakan beberapa keluarga di Seraban. Baru pada tahun
2000-an, di bawah kepemimpinan Bapak Sepiner, warga kembali ke hulu dan menetap
di lokasi Semamu yang sekarang.
Kepala Desa
·
Pangeran
Lung (1945an)
·
Ayub
(70-80an)
·
Sigar(80-90an)
·
Sepiner
(2000)
·
Pangeran
(2012-sekarang)
Sumber:
Pion Pangeran
Baca juga:
Semenisasi Jalan Desa Lung Semamu
Semenisasi Jalan Desa Lung Semamu